Skip navigation

Perlu solusi yang konferhensif memikirkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah ini, karena permasalahannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

 

Dari Gatra :

Tokyo, 14 Juli 2008 10:14
Sebanyak 604 pekerja magang (trainee) Indonesia yang sedang bekerja di berbagai perusahaan di Jepang lari dari perusahaan, sehingga kecenderungan “kabur” itu dikhawatirkan berdampak buruk bagi hubungan Indonesia dan Jepang.

Menurut perusahaan pengerah tenaga kerja Jepang, seperti yang disampaikan Working Group for Technology Transfer (WGTT) Jepang, di Tokyo, Senin (14/7), banyaknya jumlah pekerja magang Indonesia yang kabur itu terjadi sejak tahun 2005 hingga 2007.

Fenomena pekerja magang, atau disebut kenshushei yang kabur itu terungkap dalam kegiatan pelatihan manajemen dan investasi yang diselenggarakan oleh Vuteq Corporation, bekerja sama dengan WGTT Jepang, LSM yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia asal Indonesia, Minggu (13/7), di Toyota, sebuah kota di sebelah timur Nagoya.

Pelatihan ini dihadiri oleh tidak kurang dari 200 trainee dari kota-kota seperti Toyota, Arai, Mioshi, Kariya, Taketoyo, Toyohashi, Tahara, Fukui, dan Anjo. Seluruhnya bekerja di Vuteq Corporation yang berkantor pusat di Toyota.

Koordinator WGTT Jepang Fauzi Amary mengatakan, walaupun kecenderungannya semakin menurun, namun dikhawatirkan berdampak negatif bagi hubungan baik antara Jepang dan Indonesia. Kedua negara baru saja mengefektifkan kerja sama ekonomi berlandaskan EPA (Economic Partnership Agreement) pada 1 Juli 2008.

Dalam kesempatan itu, Vice President Vuteeq Corporation, yang diwakili Manajer SDM, Hiroshi Ishibushi, menekankan pentingnya para kenshushei untuk tetap konsisten pada kontrak kerja dengan perusahaan dan berupaya maksimal dalam menimba keterampilan dalam bidang kerja di perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi tinggi itu.

“Apalagi jika mengingat budaya kerja Jepang yang sangat konsisten dan menuntut disiplin kerja tinggi,” kata Ishibushi.

Tahun 2005, jumlah kenshushei yang kabur tercatat sebanyak 286 orang, tahun 2006 187 orang, dan pada 2007 sebanyak 131 orang.

Jumlah trainee di Jepang mencapai sekitar 6,000 (Juli 2008), yang didatangkan oleh IMM Japan sebanyak 4.810 orang, Vuteq Corporation 350 orang, dan sisanya sekitar 1.000 orang didatangkan perusahaan pengerah tenaga kerja lainnya. [EL, Ant]

One Comment

  1. think about it this : kepentingan siapa yang akan kita bela,
    Kita juga perlu tahu alasan mereka kabur. Apa kita siap membela mereka, atau kita hanya bisa diam membiarkan mereka jika dalam kesulitan, trainee juga adalah pekerja(yang digaji sebanyak uang saku)

    that’s why, saya kasih komen sebelumnya di atas, permasalahannya tidak sesederhana yang dipikirkan, perlu berbagai pertimbangan untuk mencari solusinya. Tidak sedikit dari kasus yang muncul, sebenarnya para trainee ini yg menjadi korban. Teman2 banyak yang menjadi menjadi mediator untuk kepentingan para trainee ini, menjadi penengah dan penyambung lidah para trainee, salut buat mereka..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: