Skip navigation

Untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat beserta elemen-elemennya yang tidak bermental “kumuh” tidak bisa instant dan langsung jadi dalam waktu singkat. Mental kumuh ini di negeri kita sudah menjadi budaya yang mengakar di setiap level masyarakat. Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa sebuah kebudayaan akan hilang apabila pendukung kebudayaan itu sendiri hilang. Teori ini biasanya yang dipakai oleh sebuah kaum untuk menghilangkan kebudayaan kaum yang lainnya yang sering terjadi di berbagai belahan dunia, bentuknya bisa berupa genocide, pembunuhan masal suatu kampung atau sebuah penghilangan sebuah tatanan maysrakat.

Haruskah kita memakai teori ini untuk melenyapkan budaya mental kumuh ini di negeri kita? Jawabannya : YA!!!. Walaupun tidak harus dengan melakukan pemusnahan para pendukung budaya kumuh ini. Karena toh para pendukung budaya kumuh ini akan lenyap juga pada akhirnya, ditelan usia alias meninggal. Yang perlu kita lakukan adalah memutus tali kelangsungan hidup budaya kumuh ini untuk generasi mendatang, shingga lahir generasi pendukung budaya yang tidak bermental kumuh. Dengan tidak mengabaikan tentunya tugas-tugas yang berwenang untuk menangkapi, memenjarakan dan memberi penyadaran para pendukung budaya mental kumuh ini yang masih hidup sekarang…..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Bergelimang dalam Budaya Kumuh

Ahmad Syafii Maarif
Guru besar sejarah, Pendiri Maarif Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 27 Beredar Kamis, 22 Mei 2008]

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan J.S. Badudu-Sutan Mohammad Zain (Jakarta: Pustaka Sinara Harapan, 1994), perkataan ”kumuh” mengandung tiga makna: 1. kotor; 2. kotor dan tidak teratur, tampak mesum; 3. keji. Untuk makna pertama, contoh kalimat yang diberikan adalah: ”mukanya kumuh benar, cucilah dulu”; kedua, ”perkampungan yang kumuh”; ketiga, ”kelakuan keji yang dipertunjukkannya sungguh memuakkan”. Rasanya ketiga makna yang mirip itu telah lama membebani kultur Indonesia modern, apakah itu dalam politik, ekonomi, sosial, dan moral.

Ke mana pun kita bergerak, budaya kumuh itu sangat dirasakan dan terus dipergunjingkan orang dari desa sampai kota. Di kedai-kedai kecil di perkampungan, di atas pesawat, di hotel-hotel mewah, dalam simposium dan seminar, bahkan di dangau-dangau sawah, kekumuhan itu tetap menjadi topik pembicaraan. Memang baru pada tingkat ”pembicaraan”, perbaikannya pasti memerlukan waktu lama, sampai bangsa ini benar-benar menjadi bangsa siuman.

Setidak-tidaknya, kita masih punya warga yang muak dengan segala bentuk kekumuhan ini, sekalipun tidak tahu cara bagaimana yang efektif untuk terlepas dari cengkeramannya. Sungguh sulit sekali. Diperlukan energi ekstra dan stamina spiritual yang prima untuk melawannya.

Sekarang ini, masih saja ramai dibicarakan tentang jaksa yang tertangkap tangan saat menerima sogok, anggota DPR yang idem ditto, kapolsek yang ”nyabu”, ujian yang bocor, si anu yang selingkuh dan tanpa rasa malu malah digelar dalam acara TV, dan seribu satu contoh kumuh yang tidak pernah kering untuk diungkap. Kita sangat kaya dengan bermacam corak kekumuhan ini.

Ketika KPK hendak menggeledah ruang kerja anggota DPR, Bung Agung Laksono, ketua dewan, tampil ke muka untuk melawannya. Bahkan ada anggota DPR yang mengusulkan agar KPK dibubarkan saja karena dinilai sudah overakting. Tetapi tampaknya KPK tetap saja bergerak tanpa menghiraukan perlawanan yang datang bertubi-tubi itu. Sebagai salah seorang yang turut membidani lahirnya pimpinan KPK yang sekarang ini, pesan saya tunggal: terus saja bergerak, tetapi jangan sampai tebang pilih. Risiko menegakkan hukum memang besar: dicaci-maki, dimusuhi, bahkan tidak mustahil dibunuh.

Dalam lingkungan budaya kotor, mesum, dan keji, kejahatan merajalela, aparat penegak hukum seperti tidak berdaya, uang mahakuasa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian aparat penegak hukum itu telah pula bergelimang dan larut dalam budaya kumuh itu dan bahkan bersahabat dengan penjahat, demi uang. Oleh sebab itu Anda jangan terlalu berharap masalah BLBI akan tuntas dalam beberapa tahun ini jika pimpinan negara tetap saja dalam keraguan untuk bertindak, sementara sebagian aparat penegak hukum tidak bisa membebaskan diri dari lingkungan yang keji dan kumuh itu. Pada dasawarsa pertama abad ke-21, tingkat peradaban Indonesia memang baru sampai di situ.
Lalu, kepada siapa bangsa ini harus mengadu? Tidak kepada siapa-siapa, kecuali kepada kekuatan moral yang masih tersisa dalam kultur kita. Kita jangan tenggelam dalam keputusasaan. Orang baik masih ada di mana-mana, sekalipun surga dan neraka juga bertetangga. Inilah dunia, Bung. Kita tidak bisa lari dari lingkungan yang serba kusam itu. Ushul fiqh mengajarkan tentang ”akhaffu al-dhararain” (pilih yang paling ringan daya rusaknya) pada saat kita dihadapkan pada lingkungan budaya yang busuk. Jelas tidak selalu mudah.

Pada sebuah unit kerja, misalnya, seseorang yang masih berupaya bertahan dalam idealisme bisa saja tersingkir, disisihkan oleh penganut filosofi mumpungisme, jika tidak sekarang, kapan lagi. Toh, sebagian wakil rakyat, sebagian aparat penegak hukum, jangan ditanya lagi pengusaha hitam, telah lama bergelimang dalam kubangan yang keruh-pekat ini. Pamor sementara kiai pun sudah merosot drastis karena rebutan posisi kekuasaan. Sekali agama dijadikan alat pembenar kekuasaan, risikonya hanya satu: kerusakan.

Al-Quran menggunakan istilah al-fasaad fî al-ardh (kerusakan di muka bumi). Korupsi adalah salah satu bentuk kerusakan yang terparah di Indonesia. Yang rumit, para perusak itu merasa berbuat baik dan dipercaya pula oleh sebagian orang sebagai manusia baik. Mereka sepintas lalu seperti para dermawan, semata-mata untuk menyembunyikan perilaku jahatnya. ”Laa tufsiduu fii al-ardh, qaaluu innamaa nahnu mushlihuun”/Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi, jawab mereka: ”Kami justru adalah orang-orang yang membangun perbaikan” (Al-Baqarah: 11).

Saya yakin, bangsa ini masih bisa dibenahi dengan syarat orang-orang baik dan berani harus ke luar kandang dan terus berteriak: hentikan kerusakan, hentikan kebinasaan. Jihad melawan kerusakan adalah jihad sejati. Jangan biarkan bangsa ini menjadi puing peradaban!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: